Sabtu, 22 Februari 2014

Pelajaran 3: Sikap Gereja terhadap Agama Kepercayaan Lain

SIKAP GEREJA TERHADAP AGAMA DAN KEPERCAYAAN LAIN


Pengantar
Indonesia adalah negara yang memiliki keanekaragaman, baik suku, agama, bahasa, tradisi dan budaya. Keragaman itu memperkaya Indonesia yang menghargai adanya perbedaan. Bhinneka Tunggal Ika, menjadi pengikat kita bersama dalam keragaman. Namun secara nyata, kita mengalami justru sebaliknya. Perbedaan justru menjadi pemicu terjadinya konflik. Perkembangan masyarakat kita saat ini menunjukkan keadaan yang memprihatinkan. Kita mendapati tahun 2010      - 93 kasus, tahun 2011 - 77 kasus; tahun 2012- 89 kasus  (s.d agustus).

Beberapa alasan yang dapat menjadi penyebab terjadinya konflik
  1. Adanya ambisi dari oknum penganut atau pemimpin agama yang ingin memperjuangkan kepentingan tertentu dengan mengatasnamakan agama dan keyakinan sebagai alasan untuk mengadakan pertikaian antar umat beragama
  2. Penganut agama kurang mendalami agamanya secara benar, sehingga mudah dihasut dan diprovokasi oleh pihak lain yang mempunyai niat jahat.
  3. Fanatisme beragama yang berlebihan, sehingga menganggap agama sendiri yang paling benar disertai dengan sikap ingin menghancurkan atau menghilangkan agama atau kepercayaan orang lain.
  4. Kurang mengenal, atau tidak mau mengenal agama dan kepercayaan lain, sehingga selalu mengukur kebenaran berdasarkan agamanya sendiri
  5. Menganggap agama dan kepercayaan lain sebagai ancaman terhadap agama yang dianutnya
  6. Kurang cepatnya penanganan aparat pemerintah dalam menangani isu-isu sara, sehingga menimbulkan masalah yang lebih besar.
  7. Adanya kecemburuan sosial dalam hal tertentu, misalnya dalam hal kesejahteraan hidup, sehingga memakai agama untuk melampiaskan kekesalannya

Ada yang indah dalam kebersaman agama dan kepercayaan lain
Pada dasarnya, seluruh agama dan kepercayaan apapun, mengajarkan yang baik kepada umatnya. Tidak ada agama atau kepercayaan lahir demi sesuatu yang jahat, dengan menjadikan orang lain sengsara. Maka kita sebagai umat beragama dengan keyakinan yang kita yakini membawa kebaikan baik di dunia maupun kelak. Hal sama, kita dapat jumpai apa yang baik dan positif dalam agama/kepercayaan lain. (Temukanlah kebaikan, hal positif dari agama dan kepercayaan temanmu yang berlainan dengan agamamu sendiri!)

 Bagaimana sikap Gereja terhadap agama/kepercayaan lainnya?
Dokumen Gereja: Unitatis Redintegratio art.3 alenia 3 (UR)
Tidak sedikit pula upacara agama Kristen yang diselenggarakan oleh saudara/saudari yang tercerai dari kita. Upacara itu dengan berbagai cara dan menurut bermacam-macam situasi masing-masing Gereja dan jemaat sudah jelas memang dapat menyalurkan hidup rahmat yang sesungguhnya, dan harus diakui dapat membuka pintu memasuki persekutuan keselamatan.”

Dokumen Gereja: Nostra Aetate
Artikel 1
“Gereja meninjau dengan cermat, sikapnya terhadap agama-agama bukan kristen dalam tugasnya memupuk kesatuan dan cinta kasih antar manusia, malah antar bangsa-bangsa. Gereja memandang, terutama apa yang sama pada manusia dan yang membawa kebersamaan hidup. Karena semua bangsa adalah satu masyarakat, mempunya satu asal, sebab Allah menempatkan seluruh manusia di bumi. Semua mempunyai tujuan yang akhir yang satu: Allah. Penyelenggaraan-Nya dan bukti kebaikan-Nya mencakup semua orang.”
Artikel 2
“Gereja Katolik tidak menolak apapun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang. Namun Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni “Jalan, Kebenaran dan Hidup” (Yoh. 14:16); dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup keagamaan, dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya.
Beberapa pokok poin dari dokumen di atas:

§  Persamaan yang nyata dalam agama-agama yang berbeda itu dinyatakan bahwa semua agama memiliki sumber dan tujuan yang sama, yakni Allah.
§  Sikap Gereja terhadap agama dan kepercayaan lain adalah :
-       mendukung terciptanya kerukunan dan persaudaraan sejati dalam kebersamaan dengan agama dan kepercayaan
-    gereja perlu menghargai menghargai agama dan kepercayaan lain sebagai ungkapan toleransinya
§  Hal konkret yang dapat dilakukan Gereja dalam membangun kerukunana adalah.
-  Gereja perlu membangun kebersamaan dan sikap terbuka terhadap agama dan kepercayaan lain melalui DIALOG
-          Macam-macam dialog yang dapat dilakukan:
DIALOG KARYA, keterlibatan dan kebersamaan dalam karya bersama, misalnya terlain dalam organisasi, pengelolaan karya sosial, pendidikan, kerja bakti bersama dll.
DIALOG KEHIDUPAN, keterlibatan dan kebersamaan dalam kehidupan nyata sehingga terjalin kerukunan Misalnya, saling memberi salam, silaturahmi, saling mendukung, bertegur sapa, haring pengalaman hidup, menjalin persahabatan dan persaudaraan
DIALOG IMAN, keterlibatan dalam saling mengembangkan iman masing-masing , misalnya melalui pemahaman akan nilai iman orang lain, memperdalam iman sendiri, saling tukar pendapat tentang pandangan iman, saling belajar akan kekayaan rohani agama

Perbedaan Toleransi dan Dialog
Toleransi amat diperlukan dalam hidup bersamaan kita yang berbeda-beda. Sikap ini perlu dibangun dan dihayati oleh setiap agama di Indonesia. Toleransi berbeda dengan dialog. Toleransi adalah sikap menghormati, menghargai dan tidak mengganggu agama lain. Sedangkan dialog agama, lebih mendalam daripada toleransi. Dialog agama menyangkut sikap keterbukaan untuk mengerti, memahami, menyelami, dan bertukar pendapat dengan agama dan kepercayaan lain. Dalam dialog, unsur komunikasi antar dua pihak atau lebih; lebih mendalam.

5 komentar: