Sabtu, 10 Agustus 2013

KUNANTIKAN "PASSION" BU GURU DAN PAK GURU


Hari-hari gini kalau boleh mengakui ada ratusan atau ribuan guru dibuat galau. Banyak nian memang yang mengalami kegalauan karena macam-macam hal alasan, mulai dari pedagang, masyarakat miskin, pedesaan dan banyak lagi akibat kenaikan BBM. Namun marilah kita sejenak memalingkan pandang pada ribuan guru yang galau. Di tengah liburan awal puasa dan menjelang Hari Raya Idul Fitri, mereka digalaukan oleh dampak perubahan kurikulum 2013 ini. Tidak perlu menambahkan litani alasan pro dan kontranya, namun marilah simak dinamisasi perasaan dan hati pahlawan hati ini. Hati mereka serasa diombang-ambingkan oleh banyak hal. Seolah mereka tak kuasa untuk menata hati, dan biarlah pengaruh luar itu menyeret hati mereka.

Hati mereka serasa sesak oleh Kompetensi inti, kompetensi dasar, standar kompetensi, indikator, RPP dan dan bisa dilanjutkan lagi. Ya ...hati yang penuh itu masih harus dengan derai arus perasaan yang berat menyelipkan, meski tetap utama adalah perhatian kasih sayang dan cinta pada keluarga, suami, istri, dan anak-anak. Di tempat tugas, mereka tak boleh abai sedikitpun terhadap perhatian perkembangan hati peserta didik. Kalau boleh dituliskan dengan tinta tebal "HANYA MEREKALAH YANG MEMILIKI HATI YANG ISTIMEWA YANG TELAH DIRAJUT KHUSUS UNTUK TUMBUHNYA CINTA DALAM HATI MEREKA DAN HATI YANG MEREKA SENTUH"

Kalau dihitung rasanya tidaklah cukup, namun karena hati penuh cinta hal itu tetap sana bisa berjalan indah. Sudah barang tentu hal ini terjadi pada semua pribadi yang dipanggil GURU. Sebab menjadi guru/pendidik yang sebenarnya adalah pilihan ALLAH. Mereka dipanggil Allah. St. Yohanes Berchman mengatakan bahwa,"tidak ada seorang pun dapat bekerja di dunia pendidikan (anak-anak) kalau 
bukan Allah sendiri yang telah memberikan kuncinya".

Jadi hati para peserta diri tetap terlambungkan doa yang selalu terpanjatkan meski tak terucapkan. Yakni, teruskan pilihanmu itu bapak dan ibu guruku. Kesahmu, lelahmu tetap berharga bagi kami. Tantangan akan selalu akan dan pasti ada, bahkan tak akan pernah lenyap dari jalan terjal cinta yang Kau tapaki. Namun satu hal, biarlah "passion' itu tetap hadir bernyala dalam hati Bapak dan Ibu guru kami. Sebab dengannya kalian dimampukan untuk melampaui tantangan itu semua. Tanpa 'hadirnya passion' itu dalam hati yang mewarnai perjalanan, selama itu pula kehadiran seorang guru tiada makna berarti. Kehadiran hanya sebatas memetik untuk, tidak optimal dan kurang mampu mentransformasikan diri dan orang lain. Jadi Bapak dan Ibu guruku... kunantikan 'passion' kalian setiap hari karena hanya kepada mereka yang ber-compasionate- lah kami serahkan hati kami. 
Berkah Dalem (dari seorang yg ingin menjadi murid)

p@trik

SPIRITUALITAS KEGAGALAN








Dicatat oleh Ribadeneira ( Penulis Kisah hidup Ignatius) . Ignasius bertanya kepada Lainez ( anggota SJ perdana). Seandainya Allah menawarkan suatu pilihan: sekarang ini juga wafat dan masuk surga, walau kehilangan kesempatan untuk berkarya bagi sesama, atau diberi kesempatan bekerja bagi kemuliaan Allah dan keselamatan jiwa-jiwa, dengan resiko gagal, dan karenanya lalu belum tentu selamat. Manakah yang akan dipilih. Segera saja Lainez memilih yang pertama, jaminan kepastian akan keselamatan. Ignasius berbeda. Dia memilih yang kedua: berkarya bagi kemuliaan Allah dan keselamatan jiwa-jiwa, dengan resiko gagal, dan karenanya bisa tidak mendapatkan keselamatan. Spiritualitas Ignasian karenanya adalah sebuah bentuk kerohanian yang membawa kita masuk ke dunia resiko, bukan sebuah spiritualitas yang sekedar hanya mau mencari ‘jalan aman’, sekedar hanya mau mengejar keselamatan personal belaka.
Hal itulah yang dikatakan Paus Fransiskus sebagai, lebih baik sakit karena keluar, daripada sakit karena diam dan aman di dalam. Keluar dan menjumpai orang, itulah dorongan apostolis ignasian. Memang tidak ada jaminan keberhasilan. Namun itulah ‘spiritualitas kegagalan demi kerajaan Allah’. Spiritualitas kegagalan tersebut berbicara bukan dalam kategori sukses, apalagi dalam perhitungan finansial. Spiritualitas tersebut lebih berbicara tentang kesetiaan, sebagaimana dikatakan Ibu Teresa, Tuhan memanggil bukan untuk sukses, melainkan untuk setia.


Magis, dengan demikian, lebih ditempatkan bukan dalam kategori ‘lebih’ dalam usaha dan hasil, namun ‘lebih’ dalam semakin menapaki jalan panggilan rasuli Kristus, ‘lebih’ dalam semakin menyerupai Yesus, sebagaimana nyata dalam Latihan Rohani. Maka ‘magis’ adalah ‘lebih’ dalam semakin mencapai tujuan ( ad finem) kita diciptakan. Latihan Rohani lalu memberi kata kunci: kerendahan hati. Kerendahan hati itulah yang menggerakkan kita bukan mencari ‘cinta, kepentingan dan kehendak diri’, melainkan berani melakukan suatu ‘pilihan’ yang berarti ‘ikut bersusah-payah dan bekerja keras bersama Kristus yang bersusah payah dan bekerja keras’, sehingga sampai pada jalan kesatuan (via unitiva) bersama Kristus memanggul salib. Hanya dalam kesediaan apostolis itulah kontemplasi mendapatkan cinta mendapatkan makna dan dasarnya. Kerendahan hati, karenanya, memiliki arti sebagai penyangkalan diri, keluar dari diri sendiri, pun dari narsisme spiritual kita.


Hati-hati dengan sukses, hati-hati dengan jaminan kepastian, pun itu jaminan kepastian keselamatan. Spiritualitas jangan menjadi ideologi, demikian antara lain pesan Paus kepada jendral. Ignasius cermat memperlakukan orang-orang dekat dan yang dipercayainya. Lainez, Nadal dan Polanco diberi banyak teguran dan askesis. Borgia, pangeran Gandia, ketika datang ke Roma disuruh bekerja di dapur, dan tidak boleh ikut makan bersama di refter komunitas. Semakin seseorang punya bakat-kemampuan, harus semakin ditempa dan diuji. Terbentur-bentur terbentuk. Mungkin berbeda dengan kecenderungan kita. Anak emas, mereka yang ‘digadhang-gadhang’, diberi fasilitas dan kemudahan, sehingga menemukan ‘jalan mulus’, tak ada askesis atau teguran sedikit saja. Namun, yang tidak disenangi mendapatkan perlakuan berbeda. Kriteria sukses: nilai baik, penurut, tidak merepotkan, tidak aneh-aneh dsb. Itulah jaminan dan kepastian.


Ignasius memilih tetap tinggal di dunia. Baginya, inilah kesempatan untuk bisa lebih bekerja bagi Allah dan sesama. Bukan keselamatan diri dan jaminan sukses yang dicari, namun peluang untuk lebih mengabdi. Memang ada resiko gagal, ada kemungkinan malahan kehilangan jaminan keselamatan. Namun bila peluang itu malahan bisa semakin menyelamatkan banyak orang, semakin membawa kemuliaan Allah yang lebih besar, itu harus diambil. Membawa semakin banyak orang kepada Allah, bukan hanya diri sendiri: itulah ikut serta dalam jalan keselamatan Allah. Itulah jalan resiko, masuk ke ujung batas, di mana ketidakpastian dan keterjaminan pun kejelasan program, struktur dan sarana kurang ada.


Paus Fransiskus, yang mengaku diri dengan jujur, tetap seorang Yesuit dan menempatkan Ignasius sebagai ‘bapa’ baginya, memberi contoh kepada kita: masuk dalam ruang frontier, ruang di ujung batas, keluar dan menyapa orang, masuk ke ruang realitas yang keras dan tak jarang kejam. Itulah warisan rohani Ignasius. Bukan sekedar mencari rasa aman dan jaminan keselamatan pribadi, itulah kerohanian Ignasian. Bila demikian, spiritualitas Ignasian hendak membongkar rasa aman dan nyaman dalam diri kita, institusi dan cara hidup kita. Spiritualitas ignasian membawa kita bergerak, terus mencari, sehingga disebut kita adalah para peziarah, bukan tipikal orang yang ‘mendeg’, yang tidak bertanya dan tidak gelisah; bukan tipikal orang yang suka duduk manis, puas dengan biasa-biasa saja atau dengan yang biasanya belaka. Spiritualitas Ignasian mendorong kita untuk berani lelah dan ‘sakit’, berjuang dan ‘gagal’. Spiritualitas Ignasian adalah cara kerohanian yang mengajak kita untuk ikut dalam gerak inkarnasi: menemukan Allah yang memandang dunia nyata ini, dan kemudian mengutus Putra-Nya untuk menyelamatkan dunia.


Bersama Putra yang berlelah-payah menyelamatkan dunia, karena besarnya kasih-Nya kepada kita, semoga kita semakin berani dan tersedia untuk ikut berjuang bersama-Nya di bawah panji-Nya, untuk juga menyatakan kasih dan kemurahan hati Allah, agar kemuliaan-Nya yang semakin besar, semakin nyata dan semakin berbuah, sehingga semakin banyak melihat perbuatan baik kita dan memuliakan Bapa yang di Surga. AMDG
Sohib, elamat pesta Ignasius. Semoga kita semakin layak dan siap menjadi putra-putra Ignasius. Tabik.- krispurwono sj

MENJADI MURID SEORANG PENGUMPUL KARDUS BEKAS


Kamis sore, tepatnya pukul 17.30, aku berdiri di depan rumah. Seorang bapak lanjut usia dengan sibuk sendirian di pinggir jalan, dekat pemberhentian bus depan gereja St. Yosep; tengah sibuk menata kardus-kardus bekas nan kumuh. Nampak sekali ketenangan walau hanya menata kardus. Sejurus waktu tak lama kemudian, sepasang pasutri sederhana berhenti menyapanya dan memberikan nasi bungsu untuk mengganjal perut dan sekaligus untuk berbuka setelah azan magrib datang. Ucapana syukur 'alhamdullilah' terucap dari sang kakek. Kebisingan kendaraan tak membuatnya gelisah dan emosi. Dengan tenang menata dan menata. Kardus untuk menampung kardus-kardus lain itu pun sobek dan harus ia ikat dengan tali rafia. Sesudahnya, kakek ini kesulitan menata kardus. Tangan satu memegangi sepeda dan kardus, sedangkan tangan lainnya memasukkan kardus lipatan ke dalamnya. Jatuh dan jatuh.


Aku menyapanya dan langsung membantunya menata berdua kardus-kardus itu. Percakapan hangatpun terjadi dipinggir lalu lintas nan ramai itu, diselingi derai bis - bis trans musi yang hampir saja menabrak pantatku. Bapa itupun berkisah bahwa dirinya adalah guru bahasa Inggris di suatu lembaga pendidikan di Palembang; Ia pun dulunya adalah angkatan laut yang kerap melalang buana ke luar negeri untuk tugas dan mengambil kapal. Ia berkisah pernah ke Rusia, Inggris, Perancis dan banyak negara lainnya. Ku tanya, darimana bapak bisa berbahasa Inggris? sahutnya, ya belajar sendiri, dng keluar negeri itu saya jadinya bisa berbahasa Inggris. "How do you do? can you spreak English? " ku jawab sekenanya, Fine thanks. I can speak english a little bit...

Sang kakek berkisah seputar penghasilan dari menjual kardus itu setelah aku tanya. Ia kerap mendapatkannya dari toko-toko klontong. "syukur lah, paling tidak sampai sore hari bisa Rp. 15.000 lah" Syukur .....Dia pun menanyakan beberapa hal tentang diriku, kujawab aku masih baru di Palembang. Beliau menasehati bahwa belajarlah bahasa Inggris yang langsing bisa digunakan, bukan setahun dua tahun e masih belum bisa apa-apa..." Setelah ikatan kardus itu selesai diikat di sepeda yang reot itu, beliaupun menyampaikan ucapan terima kasih atas kemurahan hati membantunya dan menyampaikan salam perpisahan "So long...thanks for your kindness ... by.."

Penampilannya renta, bajunya kumuh bau kotor sekali, beberapa hari tak dicuci pastinya, usia 78 tahun, sepedanya reot jalannya pun miring. Selintas mungkin aku mengira memandangnya orang miskin yang sepeti lainnya. Namun perjumpaan ini membuatku berbunga dalam kemurahan hati. Perjumpaan itu memberikan makna bahwa setiap pribadi perlu dijumpai secara personal, buka karena dinilai dari penampilannya, kebiasaannya.

Orang miskin itupun mengajariku bagaimana bersikap atas hidup, yakni dengan penuh syukur dan penuh keterbukaan bukan dengan keluhan demi keluhan. Semua patut dijalani. Berkah Dalem.

P@trik