Minggu, 19 Mei 2013

MENJADI SAUDARA BAGI YANG TAK PUNYA SAUDARA

Oleh: Fr. M. Patrik Totok, M, BHK



Undangan lembut
      Malam itu aku menerima sms permohonan bantuan berpikir sekaligus penyampaian keadaan seputar Panti Werdha di Batu yang dikelola bersama teman-temanku. Singkatnya, salah satu pegawainya mundur dan meninggalkan mendadak. Yang kedua, simbah Ponijem mengalami keadaan tak sadarkan diri dan dibawa ke UGD RS Baptis Junrejo Batu. Selintas undangan lembut itu mengajakku untuk berpikir sejenak bagaimana mendampinginya ya. Aku masih belum terbiasa dengan pelayanan nenek-nenek tua/lansia. Fisikku yang lemah karena kelelahan sehabis kegiatan besar 2 kali rekoleksi membuatku cukup tak berdaya. Pertanyaan dalam benakku apakan masih ada tenaga tersisa untuk ini? Apakah teman-temanku lainnya bisa menggantikan aku? Akupun mulai melayang dengan pikiran-pikiranku sendiri. Terlintas rasionalisasi untuk menghindari undangan itu.
         Pada hari kedua, aku sepertinya duduk termenung sendiri. Mempertimbangkan segala keadaan yang semuanya serba minim. Baik tenaga, beaya, juga situasi yang mana hampir semua teman-temanku merasa kesulitan untuk terlibat. Suara itu bernyanyi dalam hati, 'lalu engkau sendiri bagaimana?' Ya aku seperti merasa malu sendiri, mengapa banyak alasan-alasan pergumulan dalam hati ini. Aku mulai tetapkan hati. Aku coba untuk hadir saja, dengan mencari informasi apa yang paling diperlukan dan apa yang paling mendesak dilakukan. Sesampainya aku di komunitas temanku, aku menerima kabar dari wajah yang penuh kesedihan, kehilangan saudara. Tak kuasa aku tetap pada keenggananku. Aku hanya menyampaikan apa yang bisa aku bantu. Setelah mengurus ini dan itu persoalan teknis pemakaman, aku pun pulang dan menyiapkan segala sesuatunya.

Kata Sederhana
      Aku bersama teman satu rumah bersepeda motor dengan beberapa tas bergelantungan berisi peralatan pemakaman. Hujan deras mengguyur seluruh tubuh ini, serasa memberikan warna dan godaan sejauhmana aku mau menjadi saudara yang hadir. Aku sampai di rumah panti itu dan langsung menuju ke kamar jenazah mbah Ponijem ditidurkan. Aku berdoa singkat untuknya. Selanjutnya, aku mengalami sendiri bagaimana pribadi-pribadi lain yang turut sibuk menghantar saudaraku ini. Menyiapkan bunga yang sedikit, peralatan ibadatnya, kue seadanya, dan inisiatif teman yang memberi makan dan kue. Bapak-bapak pangrukti loyo pun penuh semangat membantu. Rasanya semua dimudahkan, enak dan mengalir. Aku duduk disebelah jenazahnya, mendoakan dan memimpin upacara tutup peti singkat. Dan selanjutnya saya bersama teman lainnya menghantar ke pemakaman paroki terdekat di tengah guyuran hujan. Aku pun menghantarkan jenazah ke pembaringan terakhir. Teruntai kata sederhana,"mbah selamat jalan ya... selamat jalan ya.." Kata sederhana yang mewakili perasaan hati ini.
        Perasaanku terasa lega dan bahagia sekali. Aku merasa boleh mengalami pengalaman sederhana namun menyentuh. Mbah Ponijem adalah nenek yang tidak memiliki famili sama sekali. Hidup dalam kemiskinannya pada usia lanjut. Berkat bantuan rekan yang peduli dibawa pada panti ini. Hari ini aku menghantarnya kembali dan berjumpa dengan Dia yang beliau kasihi, yang tidka lain adalah Tuhan sendiri.

Menjadi sederhana
Pengalaman ini membuatku belajar lebih sederhana. Aku mengalami perubahan dalam diriku di saat aku rela mengenakan sikap sederhana itu. Pikiran-pikiranku yang membuatku enggan, serasa rontok karena aku rela menjadi sederhana. Aku sepertinya amat dekat dengan pribadi-pribadi yang kujumpai dan amat luar biasa mereka. Sikap sederhana membuat setiap insan bebas untuk memberikan dirinya kepada mereka terutama yang paling membutuhkan. Pengalaman mengantar mbah Ponijem ini membuatku serasa menjadi sederhana. Aku bahagia karena dapat menjadi saudara bagi mbah Ponijem. Sanggup menjadi saudara yang menghantar saudara yang tak memiliki saudara. Menjadi sederhana itu ternyata membahagiakan. Terima kasih karena diperkenankan menjadi sederhana oleh karena pengalaman kepergianmu, saudaraku, mbah Ponijem. Berkah Dalem.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar